Wednesday, October 5, 2011

Hadiah seorang Ibu


Mungkin bisa menjadi bahan renungan untuk kita......


"Bisa saya melihat bayi saya?" pinta seorang ibu yang baru melahirkan

penuh kebahagiaan Ketika gendongan itu berpindah ketangannya dan

ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu,
ibu itu menahan nafasnya Dokter yang menungguinya segera berbalik
memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua
belah telinga.

Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi
seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja
yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke
rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis.

Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi.

 Anak lelaki itu terisak-isak berkata, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku.
Katanya, “aku ini makhluk aneh"
Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun
disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di
bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya
mengingatkan, Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?"
Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.

suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang
Bisa mencangkokkan telinga untuknya. "Saya percaya saya bisa memindahkan
Sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia
mendonorkan telinganya," kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki
 itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya
pada mereka. Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka
memanggil anak lelakinya, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia

mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah

sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia." kata sang ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah.
Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima
banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun
menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya,
"Yah,aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan
ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama
sekali belum membalas kebaikannya."
Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati
orang yang telah memberikan telinga itu."

Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian

belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu
tetap menyimpan rahasia.
Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu.
Dihari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya
yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah
membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya

sehingga tampaklah bahwa sang ibu tidak memiliki telinga.

"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan
rambutnya," bisik sang ayah. "Dan tak seorang pun menyadari
bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?"


Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati.

Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat,

namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui...

No comments:

Post a Comment